Rabu, 20 Maret 2013

studi kasus dan situs


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Jika diperhatikan dengan seksama, banyak jenis strategi penelitian kualitatif menempatkan posisi obyek penelitian sebagai ‘kasus’ seperti halnya di dalam penelitian studi kasus. Burhan Bunguin mengkategorikan penelitian-penelitian yang demikian, termasuk penelitian studi kasus, sebagai penelitian berbasis kasus (case-based research). Penelitian berbasis kasus adalah penelitian kualitatif yang menggunakan kasus untuk menjelaskan suatu fenomena dan mengkaitkannya dengan teori tertentu[1]. Istilah penelitian berbasis kasus mengemuka karena berkembangnya fakta bahwa penelitian kualitatif lebih menekankan kualitas dan kedalaman analisis terhadap obyek penelitian. Pada hampir di seluruh jenis penelitian kualitatif, obyek penelitian dikaji tidak dari sudut permukaan yang dangkal atau bagian per-bagian, tetapi dikaji secara menyeluruh dan terperinci. Menurut penelitian berbasis kasus, obyek penelitian yang dipandang secara demikian disebut sebagai ‘kasus’. Mengacu pada pemahaman ini,Banguin memasukkan hampir seluruh jenis penelitian kualitatif, termasuk penelitian grounded theory, ethnografi, phenomenologi, dan penelitian studi kasus ke dalam jenis penelitian berbasis kasus.[2]
Hingga saat ini masih terus berlangsung perdebatan tentang posisi ‘kasus’ sebagai obyek penelitian dalam penelitian kualitatif pada umumnya dan khususnya pada penelitian studi kasus. Banyak peneliti yang memandang bahwa setiap obyek penelitian, khususnya obyek pada penelitian kualitatif adalah ‘kasus’, Konsekuensinya, semua penelitian kualitatif adalah penelitian studi kasus. Oleh karena itu, di dalam banyak laporan penelitian, khususnya penelitian kualitatif, kata-kata ‘studi kasus’ banyak dicantumkan sebagai bagian dari judul. Beberapa peneliti yang sekaligus juga penulis, seperti Stake (1994, 2005), Creswell (1998, 2007), dan Yin (1994, 2003a, 2003b, 2009) menolak anggapan demikian. Mereka berupaya menunjukkan perbedaan antara penelitian studi kasus dengan penelitian berbasis kasus. Mereka memandang bahwa penelitian studi kasus merupakan salah satu jenis penelitian dalam penelitian kualitatif yang memiliki kedudukan yang sama seperti halnya dengan jenis strategi penelitian kualitatif yang lain, seperti penelitian ethnografi, phenomenologi, grounded theory, dan biografi.
Secara khusus, pada tahun 1982, Yin memperkenalkan penelitian studi kasus sebagai metoda penelitian tersendiri, yang terpisah dan berbeda dari ragam penelitian kualitatif yang lain. Yin lebih memperjelas pendapatnya dengan menulis buku khusus yang secara terperinci menjelaskan argumen, kriteria dan proses penelitian studi kasus, yang telah diterbitkan hingga empat edisi yaitu pada tahun 1986, 1994, 2003, dan 2009. Pendapat Yin tersebut mendapatkan banyak tanggapan. Sebagian besar tidak menentangnya, tetapi cenderung mendukung dengan menambahkan argumen-argumen untuk lebih mempertegas kekhususan posisi, kedudukan, dan memperjelas arahan penggunaannya. Dalam makalah ini akan di bahas secara ringkas tentang desain penelitian studi kasus.
B.     Rumusan Masalah

a.         Bagaimana pengertian penelitian studi kasus?
b.         Bagaimana pengertian desain penelitian studi kasus?
c.         Bagaimana tahap desain penelitian studi kasus?
d.        Bagaimana proses penyelenggaraan penelitian studi kasus?
e.         Bagaimana penelitian studi situs tunggal dan multi situs?

C.    Tujuan Penulisan

        a.      Mengetahui pengertian penelitian studi kasus
       b.      Mengetahui pengertian desain penelitian studi kasus
        c.      Mengetahui tahap desain penelitian studi kasus
       d.      Mengetahui proses penyelenggaraan penelitian studi kasus
        e.      Mengetahui penelitian studi situs tunggal dan multi situs.
                                                                                      
BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Studi Kasus
Studi kasus dapat diartikan sebagai: an intensive, holistic description, and analysis of a single instance, phenomenon, or social unit.[3] Pengertian tersebut memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya studi kasus adalah suatu strategi penelitian yang mengkaji secara rinci atas suatu latar atau satu orang subjek atau satu peristiwa tertentu.
Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni penyajikan pandangan subjek yang diteliti sehingga dapat ditemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trustworthiness). Dipilihnya studi kasus sebagai rancangan penelitian karena peneliti ingin mempertahan-kan keutuhan subjek penelitian. Peneliti juga beranggapan bahwa fokus penelitian kualitatif biasanya akan lebih mudah dijawab dengan desain studi kasus.
Studi kasus sendiri merupakan bagian dari penelitian kualitatif. Jadi, sebuah penelitian yang menggunakan studi kasus sejatinya hanya menggunakan desain atau rancangan studi kasus, adapun pendekatannya tetap mengacu pada pendekatan kualitatif. Alasan digunakannya pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian adalah karena peneliti melihat sifat dari masalah diteliti yang dapat berkembang secara alamiah sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan. Peneliti juga berkeyakinan bahwa dengan pendekatan alamiah, penelitiannya akan menghasilkan informasi yang lebih kaya.
Jadi, dipilihnya pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian karena peneliti berkeinginan untuk memahami dunia makna subjek penelitian secara mendalam. Rancangan penelitian dibuat sebagaimana umumnya rancangan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, yang umumnya bersifat sementara dan lebih banyak memperhatikan pembentukan teori substantif dari data empiris yang akan didapat di lapangan.
Untuk itu, desain penelitian dikembangkan secara terbuka dari berbagai perubahan yang diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan. Hal ini penting untuk dijelaskan, mengingat penelitian kualitatif merupakan penelitian yang didesain dalam kondisi dan situasi alamiah (naturalistic) sehingga dapat ditemukan kebenaran dalam bentuk yang semurni-murninya tanpa mengalami distorsi yang disebabkan oleh instrumen dan desain penelitian. Karena instrumen dan desain penelitian cenderung mengkotak-kotakkan manusia dalam kerangka konsepsi yang kaku.

2.      Desain Penelitian

Dalam bahasa sehari –hari desain penelitian adalah suatu rencana tindakan untuk berangkat dari sini kesana, dimana ‘disini’ bisa diartikan sebagai rangkaian pertanyaan awal yang harus dijawab, dan ‘ disana’ merupakan serangkaian konklusi (jawaban) tentang pertanyaan tersebut . Menurur Nachmias desain penelitian sebagai suatu rencana yang membimbing peneliti dalam proses pengumpulan, analisis dan interpretasi observasi.  Ia merupakan suatu model pembuktian logis yang memungkinkan peneliti untuk mengambil inferensi mengenai hubungan kausal antar variable di dalam suatu penelitian. Desain penelitian tersebut juga menentukan ranah kemungkinan generalisasi, yaitu apakah interpretasi yang dicapai dapat digeneralisasikan terhadap suatu populasi yang lebih besar atau situasi – situasi yang berbeda.[4]

Untuk studi kasus, ada lima komponen desain penelitian yang sangat penting, yaitu :
1.      Pertanyaan – pertanyaan penelitian
Meskipun pertanyaan berfariasi, tetapi bentuk pertanyaan sebaiknya berkenaan dengan : siapa, apa, dimana, bagaimana, dan mengapa. Selanjutnya hakikat pertanyaan – pertanyaan tersebut diklarifikasikan secara persis dalam penelitian.
2.      Proposisinya, jika ada;
Proposisi penelitian mengarah perhatian peneliti pada sesuatu yang harus diselidiki dalam ruang lingkup studinya.
3.      Unit – unit analisisnya;
Unit analisis secara fundamental berkaitan dengan masalah penentuan apa yang dimaksud dengan kasus dalam penelitian yang bersangkutan
4.      Logika yang mengaitkan data dengan proposisinya tersebut;
Pada tahap ini mengetengahkan tahap - tahap analisis data dalam penelitian studi kasus.
5.      Dan kriteria untuk menginterpretasikan temuan.
Disini peneliti menyusun criteria guna mengintepretasi tipe - tipe temuan, diharapkan pola – pola yang berbeda tersebut memberi gambaran yang cukup jelas tentang perbedaan gambarannya sehingga temuan – temuannya dapat diinterpretasikan.

Menurut Kidder ada empat kriteria penetapan kualitas desain penelitian studi kasus,[5] yaitu ;
1.      Validitas Konstrak : Menetapkan ukuran operasional yang benar untuk konsep – konsep yang akan diteliti.
2.      Validitas Internal : Menetapkan hubungan kausal, dimana kondisi – kondisi tertentu diperlihatkan guna mengarahkan kondisi – kondisi lain, sebagaiman dibedakan dari hubungan semu.
3.      Validitas Eksternal : menetapkan ranah dimana temuan suatu penelitian dapat divisualisasikan.
4.      Reliabilitas : Menunjukan bahwa pelaksanaan suatu penelitian (seperti prosedur pengumpulan data) dapat diinterpretasikan, dengan hasil yang sama.
 
3.      Desain - Desain Studi Kasus

Sementara itu, Yin membagi penelitian studi kasus secara umum menjadi 2 (dua) jenis, yaitu penelitian studi kasus dengan menggunakan kasus tunggal dan jamak/ banyak[6]. Disamping itu, ia juga mengelompokkannya berdasarkan jumlah unit analisisnya, yaitu penelitian studi kasus holistik (holistic) yang menggunakan satu unit analisis dan penelitian studi kasus terpancang (embedded) yang menggunakan beberapa atau banyak unit analisis. Penelitian studi kasus disebut terpancang (embedded), karena terikat (terpancang) pada unit-unit analisisnya yang telah ditentukan. Unit analisis itu sendiri dibutuhkan untuk lebih memfokuskan penelitian pada maksud dan tujuannya. Penentuan unit analisis ditentukan melalui kajian teori. Sementara itu, pada penelitian studi kasus holistik, penelitian dilakukan lebih bebas dan terfokus pada kasus yang diteliti dan tidak terikat pada unit analisis, karena unit analisisnya menyatu dalam kasusnya itu sendiri.
Jika dikaitkan antara kedua cara pengelompokkan tersebut, maka jenis-jenis penelitian studi kasus dapat disusun ke alam suatu matriks 2 x 2. Dengan demikian, menurut Yin  penelitian studi kasus dapat terdiri dari 4 (empat) jenis. Untuk lebih jelasnya, hubungan antar kedua pengelompokkan tersebut, perhatikan gambar matriks jenis-jenis penelitian studi kasus berikut ini:

Gambar: Jenis-jenis Dasar Penelitian Studi Kasus[7]


Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa terdapat 4 (empat) jenis penelitian studi kasus, yaitu:
1. Penelitian studi kasus tunggal holistik (jenis 1 dan 2)
Penelitian studi kasus tunggal holistik (holistic single-case study) adalah penelitian yang menempatkan sebuah kasus sebagai fokus dari penelitian. Yin menjelaskan bahwa terdapat 5 (lima) alasan untuk menggunakan hanya satu kasus di dalam penelitian studi kasus, yaitu[8]:
a) Kasus yang dipilih mampu menjadi bukti dari teori yang telah dibangun dengan baik. Teori yang dibangun memiliki proposisi yang jelas, yang sesuai dengan kasus tunggal yang dipilih sehingga dapat dipergunakan untuk membuktikan kebenarannya.
b) Kasus yang dipilih merupakan kasus yang ekstrim atau unik. Kasus tersebut dapat berupa keadaan, kejadian, program atau kegiatan yang jarang terjadi, dan bahkan mungkin satu-satunya di dunia, sehingga layak untuk diteliti sebagai suatu kasus.
c) Kasus yang dipilih merupakan kasus tipikal atau perwakilan dari kasus lain yang sama. Pada dasarnya, terdapat banyak kasus yang sama dengan kasus yang dipilih, tetapi dengan maksud untuk lebih menghemat waktu dan biaya, penelitian dapat dilakukan hanya pada satu kasus saja, yang dipandang mampu menjadi representatif dari kasus lainnya.
d) Kasus dipilih karena merupakan kesempatan khusus bagi penelitinya. Kesempatan tersebut merupakan jalan yang memungkinkan peneliti untuk dapat meneliti kasus tersebut. Tanpa adanya kesempatan tersebut, peneliti mungkin tidak memiliki akses untuk melakukan penelitian terhadap kasus tersebut.
e) Kasus dipilih karena bersifat longitudinal, yaitu terjadi dalam dua atau lebih pada waktu yang berlainan. Kasus yang demikian sagat tepat untuk penelitian yang dimaksudkan untuk membuktikan terjadinya perubahan pada suatu kasus akibat berjalannya waktu.
Sementara itu, perbedaan antara penelitian studi kasus holistik (jenis 1) dan terpancang (jenis 2) adalah pada jumlah unit analisis yang digunakan. Pada jenis yang pertama, jumlah unit analisis yang digunakan pada umumnya hanya satu atau bahkan sama sekali unit analisisnya tidak dapat dijelaskan, karena terintegrasi dengan kasusnya. Dalam penelitian studi kasus yang demikian, unit analisis tidak dapat ditentukan karena kasus tersebut juga sekaligus merupakan unit analisis dari penelitian.
Sedangkan jenis yang kedua, penelitian studi kasus terpancang memiliki unit analisis lebih dari satu. Hal ini dapat terjadi karena didasari oleh hasil kajian teori yang menuntut adanya lebih dari satu unit analisis. Tuntutan penggunaan lebih dari satu unit analisis biasanya disebabkan oleh tujuan penelitian yang ingin menjelaskan hubungan secara komprehensif dan detail setiap bagian dari kasus secara lebih mendalam. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa semakin banyak jenis unit analisis yang digunakan, sifat alamiah penelitian akan semakin kabur, karena cenderung menjadi penelitian yang terikat pada keberadaan unit analisisnya.
2. Penelitian studi kasus jamak (jenis 3 dan 4)
Pada dasarnya, penelitian studi kasus jamak adalah penelitian yang menggunakan lebih dari satu kasus. Penggunaan jumlah kasus lebih dari satu pada penelitian studi kasus pada umumnya dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih detail, sehingga diskripsi hasil penelitian menjadi semakin jelas dan terperinci. Hal ini juga didorong oleh keinginan untuk mengeneralisasi konsep atau teori yang dihasilkan. Dengan kata lain, penggunaan jumlah kasus yang banyak dimaksudkan untuk menutupi kelemahan yang terdapat pada penggunaan kasus tunggal, yang dianggap tidak dapat digeneralisasikan.
Proses analisis pada penelitian studi kasus jamak berbeda dengan penelitian kuantitatif yang menggunakan jumlah responden yang banyak. Pada peneltian kuantitatif, data dari responden dapat diolah secara terintegrasi dengan formula tertentu, sehingga menghasilkan satu kesatuan konsep dalam bentuk model hubungan antar data.
Di dalam penelitian studi kasus jamak, Yin menyarankan menggunakan logika replikasi sebagai pendekatan di dalam proses analisisnya[9]. Pada proses ini, setiap kasus harus mengalami prosedur penelitian yang sama, hingga menghasilkan hasil penelitiannya masing-masing. Selanjutnya, hasil dari masing-masing penelitian di perbandingkan, untuk menentukan kesamaan dan perbedaannya. Hasilnya dipergunakan untuk menjelaskan pertanyaan penelitian pada umumnya dan khususnya pencapaian atas maksud dan tujuan penelitian.
Jika dibuatkan dalam suatu diagram, jenis-jenis penelitian studi kasus menurut Yin dapat dilihat pada gambar diagram pada halaman berikut. Pada diagram tersebut juga dapat dilihat contoh judul-judul penelitian yang menggambarkan isi dari masing-masing jenis. Contoh penelitian studi kasus holistik tunggal yang diberikan dengan judul ‘Kemacetan Lalu-lintas di Kawasan Malioboro, Yogyakarta’, dan jamaknya adalah ‘Kemacetan Lalu-lintas di Kawasan Gejayan dan Malioboro, Yogyakarta’, menunjukan adanya keterpaduan antara kasus dengan lokasi penelitiannya sebagai suatu penelitian yang holistik. Sementara itu, contoh untuk penelitian studi kasus terpancang tunggal yang berjudul ‘Pencampuran Moda Transportasi Sebagai Penyebab Kemacetan, Studi Kasus: Kawasan Malioboro, Yogkyakarta’, dan contoh jamaknya adalah ‘Pencampuran Moda Transportasi Sebagai Penyebab Kemacetan, Studi Kasus: Kawasan Malioboro dan Gejayan, Yogkyakarta’, menunjukkan adanya penggunaan istilah ‘studi kasus’.
 Penggunaan istilah tersebut secara khusus untuk menunjukkan bahwa kasus yang dipergunakan bersifat sebagai sarana (instrumen) pembukti atas konsep atau teori peneliti. Sementara judul utamanya ‘Pencampuran Moda Transportasi Sebagai Penyebab Kemacetan’ menggambarkan unit analisis yang mengikat (memancang) fokus penelitiannya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut ini:
Gambar 10: Jenis-jenis Penelitian Studi Kasus[10]
4.      Penyelenggaraan Penelitian Studi Kasus

Sementara itu, Yin  membagi proses penelitian menjadi 2 (dua) jenis, yaitu proses penelitian studi kasus tunggal dan proses penelitian studi kasus jamak.[11] Kedua proses tersebut pada dasarnya mengacu pada proses dasar yang sama. Perbedaannya adalah pada jumlah kasus pada penelitian studi kasus jamak yang lebih dari satu, sehingga membutuhkan replikatif proses yang lebih panjang untuk mengintegrasikan hasil-hasil kajian dari tiap-tiap kasus. Untuk lebih jelasnya, proses penelitian studi kasus menurut Yin adalah sebagai berikut:
a.       Mendefinsikan dan merancang penelitian.
Pada tahap ini, peneliti melakukan kajian pengembangan teori atau konsep untuk menentukan kasus atau kasus-kasus dan merancang protokol(alat pemandu) pengumpulan data. Pada umumnya, pengembangan teori dan konsep digunakan untuk mengembangkan pertanyaan penelitian dan proposisi penelitian. Proposisi penelitian memiliki posisi yang mirip dengan hipotesis, yaitu merupakan jawaban teoritis atas pertanyaan penelitian. Merkipun demikian, proposisi lebih cenderung menggambarkan prediksi konsep akhir yang akan dituju di dalam penelitian. Proposisi merupakan landasan bagi peneliti untuk menetapkan kasus pada umumnya dan unit analisis pada khususnya. Tahapan ini sama untuk penelitian studi kasus tunggal maupun jamak.
 Guna melaksanakan studi kasus yang berkualitas tinggi, sebelum terjun melakukan studi kasus di tempat yang di inginkan maka latihan – latihan intensif perlu di rencanakan, protokol studi kasus perlu dikembangkan dan disempurnakan, serta penelitian perintis perlu di selanggarakan[12].
b.      Menyiapkan, mengumpulkan dan menganalisis data.
Pada tahap ini, peneliti melakukan persiapan, pengumpulan dan analisis data berdasarkan protokol penelitian yang telah dirancang sebelumnya. Pada penelitian studi kasus tunggal, penelitian dilakukan pada kasus terpilih hingga dilanjutkan pada tahapan berikutnya. Pada penelitian studi kasus jamak, penelitian pada setiap kasus dilakukan sendiri-sendiri hingga menghasilkan laporan sendiri-sendiri juga.
Penyelenggaraan studi kasus diawali dengan penentuan masalah atau isu yang akan diselidiki dan pengembangan desain penelitiannya. Peneliti studi kasus setidaknya mempunyai beberapa ketrampilan diantaranya : mengajukan pertanyaan, mendengarkan, penyesuaian diri, memegang teguh isu – isu yang akan diteliti, dan mengurangi bias.
Menurut Yin ada enam sumber bukti yang dapat dijadikan focus dalam pengumpulan data studi kasus yaitu[13] : dokumentasi, rekaman arsip, wawancara, observasi langsung, observasi partisipan, dan perangkat fisik. Pada dasarnya ada tiga prnsip dalam pengumpulan data ; menggunakan multisumber bukti, menciptakan data dasar studi kasus, dan memelihara rangkaian bukti.[14]
Ada dua strategi umum dalam menganalisa data,[15] yaitu ;
1.      Mendasarkan pada proposisi teoritis ; strategi yang mengikuti proposisi teoritis yang menuntun studi kasus. tujuan dan desain asal dari studi kasus diperkirakan berdasar atas proposisi semacam itu, yang selanjutnya mencerminkan serangkaian pertanyaan penelitian, tinjauan pustaka, dan pemahaman – pemahaman baru.
2.      Mengembangkan deskripsi kasus ; yaitu mengembangkan suatu kerangka kerja deskriptif untuk mengorganisasikan studi kasus.

c.       Menganalisis dan Menyimpulkan.
 Tahapan ini merupakan tahapan terakhir dari proses penelitian studi kasus. Pada penelitian studi kasus tunggal, analisis dan penyimpulan dari hasil penelitian digunakan untuk mengecek kembali kepada konsep atau teori yang telah dibangun pada tahap pertama penelitian. Sementara itu, pada penelitian studi kasus jamak, analisis dan penyimpulan dilakukan dengan mengkaji saling-silangkan hasil-hasil penelitian dari setiap kasus. Seperti halnya pada penelitian studi kasus tunggal, hasil analisis dan penyimpulan di gunakan untuk menetapkan atau memperbaiki konsep atau teori yang telah dibangun pada awal tahapan penelitian.
Ada tiga jenis analisa dominan dalam penelitian studi kasus yaitu[16] ;
1.      Penjodohan Pola
Penjodohan pola yaitu membandingkan pola yang didasarkan atas empiri dengan pola yang di prediksikan (atau dengan beberapa predisi alternatif). Jika kedua pola ini ada persamaan maka hasilnya bisa menguatkan validitas studi kasus tersebut.
2.      Pembuatan Eksplanasi
Pembuatan eksplanasi yaitu menjelaskan fenomena atau menetapkan serangkaian timbal balik mengenai fenomena tersebut. Pada studi – studi kasus umumnya selama ini  menggunakan eksplanasi dalam bentuk naratif.
3.      Analisis Deret Waktu
Analisis deret waktu adalah membeberkan rangkaian kejadian secara rinci yang kronologis atas data yang di dapat secara berurutan.
Dalam penulisan laporan hasil  studi kasus hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok.
                                                                       

5.      Studi  Situs Tunggal dan  Multi Situs

a.       Pengertian sudi situs tunggal dan multi situs
Studi situs tunggal adalah suatu penelitian kualitatif melibatkan satu situs (tempat) dengan menganalisa beberapa permasalahan yang ada dalam situs tersebut.  Sedangakan Studi multi situs is a qualitative research approach that we designed to gain an in-depth knowledge of an organizational phenomenon that had barely been researched: strategic scanning.[17] Rancangan studi multi-situs adalah suatu rancangan penelitian kualitatif yang melibatkan beberapa situs dan subjek penelitian. Subjek-subjek penelitian tersebut diasumsikan memiliki karakteristik yang sama. Sebagaimana dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen, studi multi-situs merupakan salah satu bentuk penelitian kualitatif yang memang dapat digunakan terutama untuk mengembangkan teori yang diangkat dari beberapa latar penelitian yang serupa, sehingga dapat dihasilkan teori yang dapat ditrasfer ke situasi yang lebih luas dan lebih umum cakupannya.[18]
Pada dasarnya studi satu situs dan multi-situs mempunyai prinsip sama dengan studi kasus tunggal dan  multi-kasus perbedaanya terletak pada pendekatan. Studi multi-kasus dalam mengamati suatu kasus berangkat dari kasus tunggal ke kasus-kasus berikutnya, sehingga kasus yang diteliti memiliki dua atau lebih. Penelitian dengan multi-situs menggunakan logika yang berlainan dengan pendekatan studi multi-kasus, karena arahnya lebih banyak untuk mengembangkan teori kecenderungan memiliki banyak situs daripada dua atau tiga. Menurut Bogdan dan Biklen pendekatan situs tunggal dan  multi situs memiliki dua jenis studi, yaitu induksi analitis modifikasi dan metode komparatif konstan. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut :
1.      Induksi analitis, merupakan suatu pendekatan untuk mengumpulkan dan mengolah data maupun suatu cara untuk menmgembangnkan teori dan mengujinya. Prosedur induksi analitis dipergunakan apabila terdapat masalah, pertanyaan atau isu khusus yang menjadi fokus penelitian. Data dikumpulkan dan diolah untuk mengembangkan model deskripsi yang merangkum semua fenomena.
2.      Metode komparatif konstan, merupakan rancangan penelitian untuk sumber multi-data yang sama dengan induksi analitis karena analisis formulanya dimulai pada awal studi dan hampir selesai pada akhir pengumpulan data. Untuk menyusun langkah-langkah dalam metode komparatif konstan guna mengembangkan teori adalah[19] :
a.       mengumpulkan data;
b.      mencari kunci, isu peristiwa yang selalu berulang atau di dalam data yang merupakan kategori fokus;
c.        kumpulkan data yang banyak memberikan kejadian (incident) tentang kategori fokus dengan melihat adanya keberagaman dimensi dibawah kategori-kategori yang sedang diselidiki;
d.      tuliskan kategori-kategori yang sedang diselidiki;
e.       kerjakan data dan model yang muncul untuk menemukan adanya proses-proses sosial dasar ;
f.       lakukanlah dalam sampling, pengkodean, dan menulis sebagai fokus analisis.


b.      Teknik Pengumpulan Data Dalam Situs tunggal dan Multi Situs
Ada tiga teknik utama yang digunakan dalam pengumpulan data dalam studi situs tunggal dan multi situs ini, yaitu: (1) wawancara mendalam; (2) observasi berperan serta; dan (3) studi dokumentasi. Menurut beberapa ahli dalam bidang penelitian kualitatif, ketiga teknik ini memang merupakan teknik dasar yang selalu digunakan oleh peneliti kualitatif di dalam penelitian-penelitiannya
1.      Wawancara Mendalam
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.[20]Ada beberapa jenis wawancara yang umum digunakan dalam penelitian, antara lain wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Namun, dalam jenis penelitian ini dapat digunakan tiga jenis wawancara, yaitu (1) wawancara tidak terstruktur, (2) wawancara semi terstruktur, dan (3) wawancara tidak terencana.

a.       Digunakannya wawancara tidak terstruktur dimaksudkan agar
peneliti dapat menggali data sebanyak-banyaknya yang diperlukan tanpa
mengurangi informasi dan makna alamiah dari proses penggaliannya. Di samping itu, peneliti juga dimungkinkan dapat mencatat respons afektif yang tampak selama wawancara berlangsung dan dapat memilah pengaruh pribadi peneliti yang mungkin mempengaruhi hasil wawancara. Wawancara semacam ini secara psikologis lebih bebas sehingga tidak melelahkan dan menjemukan informan. Informasi yang dikumpulkan melalui wawancara tidak terstruktur ini sifatnya masih umum dan belum mengarah pada focus masalah. Misalnya tentang sejarah sekolah, struktur organisasi sekolah, dan pengalaman-pengalaman menarik yang pernah terjadi di sekolah.
b.      Dari wawancara tidak terstruktur tersebut selanjutnya informan dibawa
ke wawancara semi terstruktur. Informasi yang dijaring dengan wawancara
semi terstruktur ini sifatnya sudah mengarah pada fokus masalah penelitian.
Wawancara semi terstruktur ini dilakukan berdasarkan hasil wawancara
tidak terstruktur yang telah dikumpulkan sebelumnya. Misalnya wawancara
dimulai dari hal – hal yang tidak begitu penting, kemudian peneliti mengarahkan pada pertanyaan-pertanyaan yang terfokus.
c.       Wawancara jenis lain yang juga digunakan dalam penelitian ini adalah
wawancara tidak terencana. Wawancara ini dilakukan kepada informan secara
kebetulan dan tidak dilakukan seleksi terlebih dahulu. Cara wawancaranya
sangat tidak terstruktur dan dilakukan secara kebetulan

2.      Observasi Berperan Serta.
Observasi berperan serta digunakan dengan cara di mana peneliti memasuki, mengamati dan sekaligus berpartisipasi di dalam latar atau suasana tertentu.Observasi adalah suatu proses yang mengedepankan pengamatan dan ingatan.[21] Dalam penelitian ini, observasi berperan serta yang dilakukan dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama, dimulai dari observasi luas untuk menggambarkan secara umum situasi fisik dan sosial yang terjadi pada latar penelitian. Kedua, observasi dilakukan secara terfokus untuk menemukan kategori-kategori informasi yang tercakup dalam focus penelitian. Ketiga, observasi dilakukan secara lebih menyempit lagi dengan menyeleksi kejadian-kejadian yang mampu menggambarkan perbedaan di antara kategori-kategori yang tercakup dalam fokus penelitian. Tingkat kedalaman peran serta yang dilakukan oleh peneliti dalam observasi sangat bervariasi. Pertama, dimulai dari tingkat yang paling rendah keaktifannya, yaitu melakukan observasi hanya untuk melihat dari jauh kehidupan sehari-hari dan suasana umum yang terjadi pada latar penelitian. Pada tingkat ini, peneliti tidak melakukan partisipasi sama sekali. Observasi ini dilakukan peneliti pada saat pertama kali memasuki lokasi dan latar penelitian. Tingkat kedua, peran peneliti dalam observasi lebih ditingkatkan, yaitu secara dekat dan terang-terangan peneliti mengamati situasi social tertentu yang terjadi pada latar penelitian. Pada observasi tingkat ini, peran serta peneliti masih tergolong pasif. Dalam hal ini peneliti mengamati bagian-bagian peristiwa dan situasi yang terjadi, sampai pada akhirnya peneliti ikut aktif dalam kegiatan subjek penelitian.

3.      Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber selain manusia. Menurut Lincoln dan Guba, sumber ini
terdiri dari dokumen dan rekaman yang berupa tulisan, gambar atau foto,
dan rekaman audiovisual.[22] Alasan digunakannya teknik ini karena sumber tersebut memang tersedia dan terjaga keakuratannya. Di samping itu, dengan tersedianya dokumen dan rekaman peristiwa yang ada di sekolah dapat memberikan informasi tentang banyak hal yang pernah terjadi di masa lampau. Dalam penelitian ini, dokumen-dokumen yang dikumpulkan dan dianalisis adalah dokumen yang berkaitan dengan kondisi sekolah dan sekitarnya sebagai latar penelitian dan dokumen yang berkaitan dengan fokus atau masalah penelitian. Dokumen-dokumen yang dianalisis dalam kaitan untuk menentukan latar penelitian adalah data statistik dan laporan sekolah. Sedangkan dokumen-dokumen yang dianalisis untuk menjawab masalah penelitian antara lain: (1) aturan-aturan yang digunakan dalam sekolah, (2) catatan hasil rapat pengurus yayasan, (3) catatan hasil rapat kepala sekolah dan guru, (4) catatan-catatan lain yang dianggap relevan, dan (5) foto-foto kegiatan sekolah.

c.       Kredibilitas Data
Di dalam penelitian ini pengecekan kredibilitas data dapat dilakukan dengan menggunakan teknik trianggulasi, pengecekan anggota, dan diskusi teman sejawat.
Trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi trianggulasi teknik pengumpulan data atau metode dan trianggulasi sumber data. Trianggulasi teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membandingkan data atau informasi yang dikumpulkan melalui teknik yang satu dengan data atau informasi yang dikumpulkan melalui teknik yang lainnya. Misalnya data yang diperoleh melalui teknik wawancara kemudian dibandingkan dengan data yang diperoleh melalui teknik observasi atau studi dokumentasi.
Dua teknik lainnya yang digunakan untuk mengecek kredibilitas data penelitian ini adalah pengecekan anggota (member check) dan diskusi teman sejawat. Pengecekan anggota dilakukan dengan cara menunjukkan data atau informasi, termasuk interpretasi peneliti terhadapnya, yang telah ditulis di dalam format catatan lapangan atau transkrip wawancara kepada informannya agar dikomentari untuk disetujui atau ditolak, bahkan ditambah atau dikurangi. Sedangkan diskusi teman sejawat dilakukan dengan cara mendiskusikan data dan temuan-temuan penelitian dengan seorang atau lebih teman sejawat. Teman sejawat yang diajak berdiskusi tersebut adalah teman yang memiliki perhatian yang besar terhadap masalah penelitian di samping memiliki pengetahuan yang memadai tentang fokus penelitian.

d.      Analisis Data
Ada dua macam analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu(1) analisis data dalam situs, dan (2) analisis data lintas situs
1.      Analisis Data Dalam Situs
Analisis data dalam situs di dalam penelitian ini maksudnya analisis data di setiap sekolah yang dijadikan situs penelitian, Oleh karena data kualitatif terdiri dari kata-kata dan bukan angka-angka, maka penganalisisan datanya dilakukan seperti yang dianjurkan oleh Bogdan dan Biklen, Miles dan Huberman, dan Schlegel, yaitu dimulai sejak atau bersamaan dengan pengumpulan datanya dan setelah pengumpulan data selesai. Penganalisisan data yang dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data meliputi kegiatan-kegiatan: (1) penetapan fokus penelitian apakah tetap sebagaimana yang telah direncanakan atau perlu ada perubahan; (2) penyusunan temuan-temuan; (3) pembuatan rencana pengumpulan data berikutnya berdasarkan temuan dari pengumpulan data sebelumnya; (4) pengembangan pertanyaan-pertanyaan analitik untuk pengumpulan data berikutnya; dan (5) penetapan sasaran pengumpulan data berikutnya[23]. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memahami data yang telah dikumpulkan dan untuk memikirkan peluang-peluang pengumpulan data berikutnya, sehingga kualitasnya menjadi lebih baik dalam rangka penyempurnaan data yang kurang dan menguji hipotesis-hipotesis dan gagasan-gagasan yang muncul selama pengumpulan data.
Selanjutnya, setelah seluruh data yang diperlukan selesai dikumpulkan, semua catatan lapangan yang telah dibuat selama pengumpulan data dianalisis lebih lanjut secara lebih intensif dan seksama. Penganalisisan yang demikian itu disebut dengan analisis setelah pengumpulan data. Langkah-langkah yang ditempuh dalam analisis data setelah pengumpulan data itu sebagai berikut.
Pertama, dilakukan sistem kategori pengkodean. Dengan sistem ini, data penelitian dikelompokkan menurut kategori yang dibuat. Dalam rangka itu, semua data yang berupa catatan lapangan dan ringkasan data situs sementara, dibaca dan ditelaah secara seksama. Berdasarkan penelaahan tersebut kemudian diidentifikasi topik-topik liputan. Setiap topik liputan dibuatkan kode yang menggambarkan topik tersebut.
Langkah kedua dalam analisis setelah pengumpulan data adalah pengelompokan dan pemilahan data berdasarkan kode topik liputan. Setelah kode-kode tersebut dibuat lengkap dengan pembatasan operasionalnya dan dituliskan pada sebelah kiri (kolom koding) di setiap liputan yang sesuai, maka selanjutnya dilakukan pengelompokan dan pemilahan data berdasarkan kode masing-masing liputan. Pengelompokan dan pemilahan ini dilakukan dengan menggunting catatan lapangan, transkrip wawancara, dan atau trakskrip dokumentasi berdasarkan kelompok kode yang sama, dan kemudian menempelkan kembali pada lembaran kertas berdasarkan fokus penelitian.
Untuk mempermudah pelacakannya pada catatan lapangan, transkrip wawancara,
dan atau transkrip dokumentasi dan ringkasan situs sementara yang asli, maka sebelum dilakukan pengguntingan semua lembar data difotocopy terlebih dahulu. Di samping itu, untuk memperjelas kedudukan data dan mempermudah pelacakannya pada catatan lapangan, transkrip wawancara, dan atau transkrip dokumentasi, maka di bagian bawah sebelah kanan setiap satuan data tersebut diberi kode notasi.
Langkah ketiga dalam analisis setelah pengumpulan data adalah peringkasan atau kesimpulan data pada situs tersebut. Simpulan-simpulan data ini disusun dan diletakkan di setiap akhir paparan data setiap subfokus penelitian pada situs tersebut. Untuk memperjelas simpulan data, maka pada simpulan-simpulan tertentu, data itu dilengkapi dengan pembuatan bagan atau chart tentang isi simpulan yang dimaksud.
Langkah keempat sebagai langkat terakhir dalam analisis setelah pengumpulan data pada tiap situs penelitian adalah perumusan temuan penelitian. Temuan penelitian ini disusun dalam bentuk susunan proposisi yang bertolak dari temuan sementara pada masing-masing situs.
Proposisi-proposisi ini disusun dan diletakkan pada bagian akhir dari paparan dan simpulan data pada situs tersebut. Berdasarkan simpulan data dan proposisi-proposisi tersebut dibuatlah diagram yang menggambarkan teori yang ditemukan pada  situs tersebut.
2.      Analisis Data Lintas Situs
Jenis analisa ini hanya dapat digunakan pada studi multi situs. Analisis data lintas situs dimaksudkan untuk memadukan dan mem-bandingkan temuan-temuan yang dihasilkan dari seluruh situs. Langkah-langkah yang ditempuh dalam analisis data lintas situs ini sebagai berikut.
Langkah pertama peneliti membuat pengelompokan situs penelitian. Misal dari empat situs penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) situs kelompok X terdiri atas situs 1 dan situs 2, dan (2) situs kelompok Y yang terdiri atas situs 3 dan situs 4. Pengelompokan ini didasarkan atas kesamaan karakteristik tertentu yang terlihat sebelum pengumpulan data dilakukan. Langkah kedua adalah melakukan analisis lintas situs dalam satu kelompok situs. Berdasarkan temuan-temuan yang dihasilkan pada masing-masing situs yang tersusun dalam bentuk proposisi-proposisi tertentu,
Langkah ketiga adalah melakukan analisis lintas kelompok situs. Temuan-temuan sementara kelompok situs X dipadukan kesamaan dan dibandingkan perbedaannya dengan temuan-temuan sementara kelompok situs Y, sehingga menghasilkan temuan-temuan lintas kelompok situs XY. Temuan-temuan lintas kelompok situs ini berupa pernyataan-pernyataan konseptual atau proposisi-proposisi lintas kelompok situs. Temuan-temuan inilah yang merupakan temuan teoretik-substantif sebagai temuan akhir penelitian. Untuk keperluan analisis data secara keseluruhan, dibuatlah diagram yang menggambarkan langkah-langkah mulai dari mengembangkan konsep sampai dengan analisis lintas situs.



















BAB III
KESIMPULAN


Penelitian studi kasus kasus dapat diartikan sebagai: an intensive, holistic description, and . analysis of a single instance, phenomenon, or social unit.  Untuk studi kasus, ada lima komponen desain penelitian yang sangat penting, yaitu : Pertanyaan – pertanyaan penelitian, Proposisinya, jika ada; Unit – unit analisis, Logika yang mengaitkan data dengan proposisinya tersebut; Dan kriteria untuk menginterpretasikan temuan.
 Yin membagi penelitian studi kasus secara umum menjadi 2 (dua) jenis, yaitu penelitian studi kasus dengan menggunakan kasus tunggal dan jamak/ banyak. Disamping itu, ia juga mengelompokkannya berdasarkan jumlah unit analisisnya, yaitu penelitian studi kasus holistik (holistic) yang menggunakan satu unit analisis dan penelitian studi kasus terpancang (embedded) yang menggunakan beberapa atau banyak unit analisis.
Proses penelitian studi kasus menurut Yin adalah sebagai berikut (1) Mendefinsikan dan merancang penelitian ; peneliti melakukan kajian pengembangan teori atau konsep untuk menentukan kasus atau kasus-kasus dan merancang protokol(alat pemandu) pengumpulan data. (2) Menyiapkan, mengumpulkan dan menganalisis data ; Pada tahap ini, peneliti melakukan persiapan, pengumpulan dan analisis data berdasarkan protokol penelitian yang telah dirancang sebelumnya. (3) Menganalisis dan Menyimpulkan ; tahapan ini merupakan tahapan terakhir dari proses penelitian studi kasus. Pada penelitian studi kasus tunggal, analisis dan penyimpulan dari hasil penelitian digunakan untuk mengecek kembali kepada konsep atau teori yang telah dibangun pada tahap pertama penelitian.







DARTAR PUSTAKA

Arifin. Pengantar Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif, FPISH. Malang : IKIP Budi Utomo, 2009.
Bakri, M. (ed). Metodologi Penelitian Kualitatif, Tinjauan Teoritis dan Praktis, malang : Lemlit Iniversitas Islam Malang, 2002.
Bunguin, Burhan.  Analisis Data Penelitian  Kualitatif.  Jakarta ; PT Raja Grafindo Persada, 2003
http://asrori.blog.ca/etd/jtang2004./ metode dan desain studi kasus.
Kidder, Research Methods on Social Relations. New York , 1981.
Mudzakir.  Studi Kasus Desain Dan Metode. Jakarta : Raja Grafindo Persada , 2008.
Moleong, L.J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2006.
Nachmias . Research Methods in The Social Sciences . New York , 1976.
Salim, A. Teori dan paradigma Penelitian Sosial (dari Denzin Guba dan Penerapannya), Yogyakarta : PT. Tiara Wacana. 2001.



[1]Burhan Bunguin ,analisis datapenelitian  kualitatif, (Jakarta ; PT Raja Grafindo Persada,2003), hal 20.
[2] ibid, hal19
[3] Burhan Bunguin ,analisis datapenelitian  kualitatif, (Jakarta ; PT Raja Grafindo Persada,2003) hal 20
[4]Nachmias . Research Methods in The Social Sciences ,( New York ,1976), hal 77-78
[5] Kidder, Research Methods on Social Relations. (New York : 1981), hal 7-8
[6] Mudzakir, Studi Kasus Desain Dan Metode, (Jakarta :Raja Grafido Persada , 2008), hal 46
[7] Yin, Case Study Research : design and methods. (California : Sage Publication.2009), hal 46.
[8] Burhan Bunguin ,Analisis Data Penelitian  Kualitatif, (Jakarta ; PT Raja Grafindo Persada,2003), hal 30.
[9] Burhan Bunguin ,Analisis Data Penelitian  Kualitatif, (Jakarta ; PT Raja Grafindo Persada,2003), hal 31

[10] http://asrori.blog.ca/etd/jtang2004./ metode dan desain studi kasus. di akses 1 mei 2012.
[12] Mudzakir, Studi Kasus Desain Dan Metode. (Jakarta :Raja Grafido Persada , 2008), hal 67.
[13] Ibid, hal103.
[14] Ibid, hal 128.
[15] Ibid, hal 136.
[16] ibid, hal 140
[20] Moleong, Metodologi penelitian kualitatif,( Bandung : PT Rosda karya,2010), hal 186.
[21] Sugiono, Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.(Bandung : ikapi,2009) Hal 145.
[22] Moleong, Metodologi penelitian kualitatif ,( Bandung : PT Rosda karya,2010) hal 186.

1 komentar: